Let the Right One In (nama orisinal: Låt den rätte komma in), sebuah buku karangan penulis Swedia, John Ajvide Lindqvist, yang menceritakan tentang kisah Eli, seorang vampir berusia 200 tahun yang terjebak dalam tubuh anak kecil, dan Oskar, laki-laki berusia 12 tahun yang selalu ditindas teman-temannya di sekolah.
Buku ini menawarkan kisah yang sangat tidak biasa, dan bernuansa sangat 'gelap'. Memang benar adanya tulisan 'Novel Dewasa' di sampul buku ini. Bukan masalah adegan-adegan 'jorok' yang dituliskan - tidak, tidak, justru tidak ada bagian itu. Namun buku ini benar-benar menghadirkan pikiran-pikiran gamblang yang sangat jujur dan frontal; bagaimana pikiran jahat seorang anak nakal dibeberkan, perasaan-perasaan dendam yang sadis yang diekspresikan dengan kekerasan, pembunuhan-pembunuhan penuh darah, dan, yang paling tidak cocok untuk anak kecil, menurut saya, adalah bagaimana orang dewasa hidup di kemudian hari, tidak selalu seindah bayangan kita semua waktu kecil.
Orang dewasa, yang di buku ini diwakili oleh Lacke dan Virginia, dalam bayangan saya, waktu kecil, adalah orang yang sudah mencapai cita-cita, seperti mau jadi dokter, mau jadi insinyur, dan sebagainya. Namun, dengan gamblang buku ini menampilkan kenyataan bahwa kita semua bisa saja tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak punya pekerjaan dan bergantung pada harta warisan yang makin menipis, atau justru sudah menghabiskan hidupnya dalam satu pekerjaan yang membosankan; menjadi kasir di toko tomat giling kalengan.
Selebihnya, buku ini sangat menarik untuk dibaca, dengan gaya penulisan yang 'telanjang' dan cerita yang tidak biasa, kita dibawa ke suasana suram yang ditimbulkan seorang vampir di Swedia.
Buku ini sudah difilmkan dalam judul 'Let Me In'

meskipun ini sudah juni, saya menyelesaikan buku ini di bulan mei. ini buku pinjaman, buku tua dan bekas. sampulnya sudah kuning, apalagi halamannya. tipografinya dengan font biasa jenis Times New Roman yang mengingatkan saya pada tugas dan laporan-laporan kuliah. ah, tidak juga sih, kalau kuliah saya biasanya menggunakan Trebuchet. tapi, tetap saja, dalamnya tampak membosankan.
tapi, saya suka.
saya selalu suka cerita-cerita wayang dan entah mengapa saya selalu bisa mengeksplor wayang. sebanyak apapun yang sudah saya ketahui, ternyata masih banya lagi yang saya belum ketahui.
(bayangkan kalau saya sedang mempelajari alam semesta, kapan selesainya? haha)
buku ini mengulas tentang wanita-wanita di wayang lalu sang penulis, Ir. Sri Mulyono, yang tadinya saya kira wanita namun ternyata pria, mengulas mengenai karakternya dan membandingkannya dengan kehidupan sehari-hari.
wayang memang penuh dengan makna implisit.
yaaah, buku ini sangat membuka wawasan saya tentang dunia wayang yang sangat luas, dan saya suka sekali pada karakter drupadi, arimbi, dan sinta. banyak sih yang saya suka, tapi saya paling suka mereka. hmm hmm
ada beberapa toko buku di bandung, yang sudah, dan ingin, saya kunjungi:
reading's lights (tentu saja haha) ada di jalan siliwangi, dekat gandok. saya lupa alamatnya.
seven heaven, jalan raden patah
rumah buku, di supratman
ominiuum, di ciumbuileuit, sebelah unpar
toko buku djawa, di jalan braga
:D
sebelum april berakhir, saya menulis dulu deh tentang buku ini. buku pinjaman dari wena anggana, karangan adrian kresna. haha. tentang gatotkaca. isinya merupakan salah satu bagian dari cerita perwayangan di Indonesia. saya tertarik sekali pada perwayangan dan intriknya dan kisahnya dan silsilahnya dan bahkan bentuk fisiknya. menurut saya wayang sangatlah... keren. detail di wayang kulit, saya rasa semua hal mengagumkan itu memang kerjaannya seniman jaman dulu (Y).
intinya, saya sudah menghabiskan 1 buku ini dan saya masih ada hutang 1 buku lagi untuk bulan ini, padahal sekarang sudah tanggal 28 april :P
masih di tengah jalan menghabiskan buku let the right one in dan sial sekali sekarang ini musim uts, tugas, dan studio.
Ini dia buku kedua tahun ini. Kisahnya tentang seorang anak remaja yang menderita kanker ganas. Anak ini bernama Keke dan dia divonis kanker saat dia masih berumur 13 tahun.
Keke lahir tahun 1991 dan meninggal di tahun 2006. Dia seumuran saya sebenarnya. Tapi, ya ampun, saya tidak ada apa-apanya dibanding Keke. Dia benar-benar tabah, ikhlas, pasrah, namun juga punya semangat yang tinggi. Saya sampai malu sendiri sehabis membaca ini.
Ada satu hal yang membuat saya berpikir; dia menonton sinetron 'Buku Harian Nayla'. Dan saat itu keadaan dia sudah makin parah.
'Buku Harian Nayla' adalah sinetron yang saya tonton di tengah hari-hari TC pada Desember 2006. Film yang saya komentari berdasarkan film aslinya, yaitu 'One Litre of Tears'. Film yang saya lihat hanya dari sisi cerita yang mengharukan, acting para pemainnya, alur cerita, dan sebagainya.
Di sisi lain, di saat yang bersamaan, seorang Keke yang saya tidak kenal, menontonnya dengan pandangan 'kejadian nayla mirip sama saya.'
Di hari-hari itu, saya bolak-balik ke gudang Goro di daerah kelapa gading untuk latihan marching band, hari-hari yang melelahkan, tapi menyenangkan. Bersama teman, junior, dan senior, merasa hidup semakin hidup ketika menjelang GPMB.
Sedangkan Keke? Bahkan dia sedang struggling.
Ah, saya tersentuh.
Ini membuat saya lumayan 'jengjeng' sih, i mean, sadar atau tidak sadar, setiap hari, setiap detik, sebahagia apapun perasaan kita, semenyenangkan apapun hidup kita saat itu, di saat bersamaan selalu ada yang bahkan untuk bernapas saja dia berjuang keras.
Bersyukurlah. Lakukan yang terbaik setiap hari, kita tidak tahu 1 detik lagi ada apa.
Okay, kemarin saya berhasil menyelesaikan buku karya Cornelia Funke. Saya sempat menunda menyelesaikannya, terhambat oleh beberapa kesibukan, baik akademis maupun himpunan.
Anyway, ceritanya menarik! haha, rasanya saya seperti ditarik ke dunia sana di belahan Venezia. Mungkin karena sebagian besar diceritakan dari sudut pandang anak-anak, jadi saya merasa lari dari kerumitan dunia ini, dunia saya. Saya seperti diajak ke dunia anak-anak, dunia yang sama dengan kita, tapi melalui teropong sederhana. Kasarnya, ga usah ribet, deh
ha! thanks to avi, doi yang meminjamkan buku ini pada saya. buku pertama di tahun 2011 hehehe.
Orang dewasa tidak ingat lagi, bagaimana rasanya, menjadi anak-anak.
Walaupun mereka mengaku begitu.
Mereka tidak tahu lagi. Percayalah padaku.
Mereka sudah lupa semuanya.
Betapa dunia dahulu berkesan lebih besar bagi mereka.
Betapa repotnya memanjat ke atas kursi.
Bagaimana rasanya kalau harus selalu menengadah?
Lupa.
Mereka tidak tahu lagi.
Kau pun akan melupakannya.
Kadang-kadang orang dewasa bercerita, betapa indahnya ketika mereka masih anak-anak.
Mereka bahkan bermimpi menjadi anak-anak lagi.
Tetapi apa yang mereka mimpikan ketika masih anak-anak?
Tahukah kau?
Aku rasa, mereka bermimpi ingin cepat-cepat dewasa.
-Cornelia Funke
siang-siang, dengan udara yang nyaman di kulit.
cahaya matahari menembus jendela dengan sopan, menyapa mata dengan tenang.
hari masih panjang, tapi mata terlalu manja. suasana seperti menutup mata, melemaskan otot-otot.
hari masih panjang, mau ke mana?
sial, suasana terlalu nyaman.
bergerak di saat seperti ini tampaknya... memerlukan usaha lebih.
ingin pergi, mau ke mana?
...
saya ada buku, mari tersesat di dalamnya.
Desember kemarin tiba-tiba saya menyadari bahwa saya sudah lama tidak membaca buku, lalu saya berkata pada teman saya, Wena, "gue pengen targetin baca buku minimal 12 tiap tahun."
'Masuk' ke dalam buku yang bagus menurut saya sangat menyenangkan. Larut di dalamnya.